Kategori: 2019

Berkenalan Dengan Hiperplasia Endometrium

Berawal dari tidak teratur nya siklus datang bulan saya sejak bulan Maret 2018 lalu, dimana kadang bulan ini ‘dapet’ trus bulan depan enggak. Atau 2-3 bulan teratur, bulan ke 4 gak ‘dapet’ begitu terus sampai hampir 1 tahun yang awalnya saya kira ketidak teraturan itu karena faktor kelelahan saja.

Kemudian ketika bulan Januari 2019 saya tidak datang bulan dan di bulan Februari saya akhirnya ‘dapet’ tepatnya tgl 20 Februari trus kemudian gak brenti brenti walaupun sudah lebih dari 10 hari. Awalnya saya kira lama dan banyak nya yang gak biasa itu adalah karena saya ‘skip’ datang bulan di Januari lalu, saya baru mulai merasa ada yang aneh saat sudah masuk hari ke 14. Saya masih berharap ada perubahan sampai akhirnya pada hari ke 17, karena lamanya waktu haid ditambah pergantian pembalut sampai 6-7 dalam sehari (ini hanya siang saja) akhirnya membuat saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dsog di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak. Menurut dokter tersebut ditemukan kista kecil di indung telur sebelah kiri dengan ukuran 2.4 x 2 cm tapi ini kista biasa yang harapannya nanti bisa hilang.

Saat itu saya diberikan obat penghenti pendarahan dan obat hormon yang diminum setiap malam. Sampai hari ke 3 mengkonsumsi obat, tidak ada perubahan yang terjadi, malah saya semakin lemas ditambah mual sehingga napsu makan pun terganggu. Akhirnya masuk ke hari 21 saya bilang ke HN kalo saya udah ga kuat lagi, saya minta ditemani periksa ke dsog saya di Melinda Hospital Bandung. Sampai di Melinda, gak lama saya diperiksa oleh dsog kesayangan saya dr.Susan Melinda dan alangkah terkejutnya dr.Susan saat tau itu adalah hari ke 21 dan kondisi saya sudah lemas sekali. Setelah melakukan pemeriksaan melalui USG,terlihat ada penebalan dinding rahim, saat itu juga dr.Susan memutuskan untuk melakukan tindakan kuretase. Sebelum dilakukan kuretase, dokter minta dilakukan pemeriksaan darah di lab. Setelah hasil lab keluar, ternyata HB saya sudah mulai drop, dimana normal adalah 12 dan saat itu saya hanya 8 maka dr.Susan putuskan harus dirawat dan menjalani transfusi darah.

Lalu pada saat menunggu untuk dilakukan kuretase ternyata tekanan darah saya ikut ikutan naik, yaitu 170/110. Berkali kali suster melakukan pengecekan ulang, berharap itu karena tegang semata tapi sudah lewat 1 jam berbaring tensi masih tetap sama, akhirnya suster melaporkan pada dokter dan diputuskan kuretase dilakukan di ruang operasi dengan bius total mengingat kondisi HB dan tensi saya, sehingga dokter tidak mau ambil resiko. Proses kuretase dilakukan setelah saya 6-7 jam berpuasa sejak makan terakhir. Akhirnya sekitar jam 8 malam dilakukan proses tersebut.

Pengaruh obat bius lumayan dasyat 😊 saya baru sepenuhnya sadar sekitar pukul 6 pagi esok harinya dan transfusi sudah masuk labu ke 2. Alhamdulillah setelah 2 labu kemudian dilakukan pemeriksaan kembali dan ternyata HB saya sudah naik ke 11, maka dr.Susan memperbolehkan saya pulang. Menurut dokter pengerokan saat kuretase cukup banyak, saya ditegur kenapa menunggu begitu lama sampai 21 hari baru datang ke beliau. Senang hanya di rawat 1 hari, tapi pikiran belum sepenuhnya tenang karena penyebab pendarahan belum diketahui secara pasti.

Kepastian penyebab dari pendarahan baru dapat diketahui 10 hari mendatang setelah proses pemeriksaan di patologi sudah selesai . Hanya ketika saya tanya apa kemungkinan nya, menurut dr.Susan, melihat usia dan kondisi pendarahan hanya ada 2 yaitu kelainan hormon dan kanker *naudzubillahiminzalik* Selama 10 hari kemarin, saya mencoba selalu ber huznudzon kepada Alloh SWT. Terus memberikan energi positif buat diri sendiri dan selalu berucap, ini kelainan hormon. Kadang terbersit, saya juga harus ‘mempersiapkan diri untuk yang terburuk’. Kemudian saya tambahkan dalam doa bahwa jikalau yang terburuk adalah hasilnya, mohon diberikan kekuatan dan keikhlasan.

Alhamdulillah, Alloh SWT mendengarkan dan mengabulkan doa saya. Jum’at, 22 Maret 2019 saya dikabari jika hasil patologi sudah selesai. Langsung saya mempersiapkan diri untuk ke Melinda Hospital, Bandung. Baru sampe depan pintu, dr.Susan sudah menyambut dengan mengucap syukur … “jinak sil … ” MasyaAllah bahagia dan leganyaaaa … Alhamdulillah, terima kasih ya Alloh. Setelah duduk, barulah dr.Susan menjelaskan sambil memberikan hasil patologi. Ini, hiperplasia endometrium!

Masih belom ngeuh apa ini, yang penting ini karena kelainan hormon bukan kanker seperti hipotesa awal. Saya di haruskan menjalani terapi selama 6 bulan, harus disiplin makan obat dan check up nya. Karena saya memiliki hipertensi juga, maka tensi saya pun harus terjaga. Apa ngaruhnya bu? Karena obat ini tidak bisa dikonsumsi jika tekanan darah saya diatas 140. Itu yang tertanam dalam ingatan malam itu.

Sekembali dari dokter yang memberikan gambaran umum saja tentang hal ini, baru saya serius mencari tahu tentang hiperplasia endometrium ini. Yuk,kita kenalan yuk … berdasarkan beberapa referensi yang saya baca salah satu nya dari hellosehat.com, jadi hiperplasia ini adalah gangguan yang ditandai dengan penebalan lapisan dinding rahim (endometrium) yang dikarenakan pertumbuhan sel berlebih. Teorinya adalah begini, endometrium mampu berubah ubah selama siklus mentruasi sebagai respon terhadap hormon. Selama periode pertama siklus haid, indung telur akan menghasilkan estrogen untuk membantu endometrium bertumbuh dan menebal guna mempersiapkan rahim untuk kehamilan. Lalu kemudian di pertengahan siklus, sel telur dilepaskan dari salah satu indung telur, ini biasanya dikenal dengan proses ovulasi.

Nah setelah ovulasi, progesteron mulai dihasilkan. Progesteron ini mempersiapkan endometrium menerima dan menutrisi sel telur yang telah dibuahi. Jika kehamilan gak terjadi, estrogen dan progesteron akan menurun dengan stabil. Menurunnya progesteron ini memicu yang namanya proses meluruhnya lapisan rahim atau yang kita kenal dengan menstruasi.

Hiperplasia endometrium ini paling sering disebabkan oleh kelebihan estrogen, bukan kekurangan progesteron. Jika ovulasi tidak terjadi, progesteron tidak dihasilkan dan lapisan tidak meluruh. Endometrium dapat terus berkembang sebagai respon terhadap estrogen. Sel yang menghasilkan lapisan dapat bergabung dan berubah menjadi abnormal. Itu gambaran dasar tentang apa sih hiperplasia endometrium ini. Selanjutnya saya akan menjelaskan lebih detail, apa aja ciri ciri kondisi ini, apa yang menjadi pantangan dan siapa saja yang rentan terkena kondisi ini dalam beda postingan ya, karena khawatir kepanjangan 😊

Pilih ‘Me Time’ Atau ‘Couple Time’?

Sekitar bulan Oktober 2018 lalu, atas nama pengen refreshing saya minta ijin ke HN untuk traveling dengan teman teman (lagi!). Saat sedang membicarakan hal tersebut, tiba tiba entah kenapa yang biasanya setiap pagi yang menemani kita bedua dalam perjalanan itu Desta Gina dari Prambors, mendadak saya kok klik Cosmopolitan FM. Pagi itu acara BF Club yang dipandu Novita Angie dan Iwet Ramdhan dengan topik ” Seberapa pentingnya ‘me time’ untuk wanita yang sudah berkeluarga ” begitulah kira kira topiknya.

Sesi sharing dari BF Club hari itu masuk beberapa penelpon dan chat ke Cosmopolitan FM. Ada yang memang benar benar membutuhkan dan katanya langsung segeerr dan full energy setelah mereka melakukan ‘me time’ yang sebagian besar adalah melakukan traveling ataupun kegiatan fullday bersama teman teman nya, bukan bersama suami atau anak anaknya. Durasi ‘ me time ‘ ini beragam. Mulai 1 hari sampai berhari hari 😀

Karena sharing itulah akhirnya ‘mata hati’ dan pikiran saya terbuka. Saya sih merasa bersyukur banget ya pagi itu Qadarullah kok ya bisa tiba tiba klik channel nya Cosmopolitan FM. Merasa sangat bersalah dan malu sama suami, sama anak. Malu rasanya menyadari betapa pengertian dari anak anak dan HN sangat tinggi. Mengingat mereka selalu memberi ijin buat saya yang mengatasnamakan ‘lelah bekerja’ untuk ‘refreshing’ ber ‘me time’ ria bersama teman teman saya.

Selain traveling, ada juga seorang ibu yang merasa ‘me time’ dengan nongkrong di coffeeshop sambil baca buku 2-3 jam itu udah cukup recharge buat dia. Trus akhirnya Novita Angie sharing tentang pengalaman dia dan teman teman nya. Awalnya dia juga melakukan ‘me time’ dengan menghabiskan waktu bersama teman teman nya. Seiring waktu, dia lihat beberapa teman dekatnya, gak pernah melakukan ‘me time’ dengan ‘hang out atau pun traveling’ dengan teman temannya. Yang teman nya lakukan adalah refreshing dengan melakukan couple time dengan pasangan masing masing. Kemudian hal itu dicoba oleh Angie dan ternyata yang dia rasakan lebih dasyat daripada ‘me time’ nya dia selama ini.

Itulah salah satu yang mendasari saya dan HN akhirnya melakukan perjalanan berdua saja tanpa anak anak. Gak bisa dipungkiri ya kalo rasa bersalah tetap ada. Setiap saat video call apalagi jelang malam, berasa banget kangennya. Hal ini kerasa banget saat baru landing sampai dengan hari pertama. Mulai hari kedua, kami berusaha enjoy dan menikmati saat saat berdua. Iyaa ribut kecil mah pastiiii … apalagi kalo bukan masalah baca peta hahaha ! Ya kan makanya katanya perempuan itu buruk dalam membaca peta, yaa khaaannn …?! *mengharap pembenaran*

Gak berasa akhirnya udah hari ke 4 aja yang mana itu hari terakhir di Tokyo. Apa faedah dari couple time ini bubu?? MasyaAllah luaarrr biasaaaaaa … Alhamdulillah pagi itu saya tergiring denger Cosmopolitan FM sehingga terinspirasi untuk melakukan couple time dengan HN untuk mengusir penat aka refreshing. Benar adanya kalo hubungan suami istri itu harus dijaga, dirawat. Karena ternyata masih sangat dibutuhkan saat saat bedua dengan pasangan, menjaga dan menguatkan rasa sayang dengan pasangan. Yang kami rasakan benar benar recharge ya, saya terutama bener bener refresh ! Gak percaya? Cobain deh ! 🙂

Mungkin …. mungkin nih ya, dengan ‘refreshing’ bersama pasangan rasa bersalah kita terhadap anak anak sedikiiiit bekurang. Kan kita ‘refreshing’ nya barengan bapaknya iya kan … Kalo kita refreshing bareng temen temen, yaa itu cuma nge ‘charge’ kita sendiri doang. Belakangan saya merasa sangat bersalah, ahh betapa egois nya saya selama ini 🙁

Ehh ehh jadi kamu udah gak pernah gaul ama mentemen lagi dong bu? Ya masiihh dong ah ! Saya tetep butuh juga hang out or chit chat ama temen temen kheseusnya temen deket ya … Nah ini saya lakukan di hari kerja dan biasanya sih kita makan siang bareng.

Kalo couple time yang lamaan begitu kan gak bisa sering sering dilakukan ya. Nah pilihan saya selanjutnya untuk ber ‘me time’ adalah dengan membaca buku di coffee shop yang nyaman dan disukai, bebas dari semua hal. Iya semua hal, termasuk urusan kantor dan rumah. Sekitar 1-2 jam, InsyaAllah udah bisa recharge. Dan lagi lagi terima kasih HN udah mau kasih waktu juga buat ‘me time’ ini, malahan belakangan dia suka nemenin. Cuma sekedar ngopi, liatin orang lewat, ngobrol semua topik. Jadilah kami sekarang punya ‘short couple time’ !

Jadi, kira kira udah terinspirasi buat melakukan apa demi mengusir yang bernama penat buibu? Pilih me time dengan hang out bersama teman teman atau couple time bersama pasangan ? Kalo saya sih geng couple time ! hehehe

2019 … Just Keep Writing !



Postingan perdana di 2019, setelah di 2018 ternyata saya cuma posting 1 kali saja sepanjang tahun. Draft sih ada beberapa, entah kenapa mandeg di tengah jalan semua. Dari mulai mau cerita tentang traveling dengan orang tua, karena di Februari 2018 sempet jalan ke Sing bareng papa dan mama mertua juga HN. Dilanjut bulan Maret nya dapet kesempatan ke Jepang lagi karena kerjaan. Trus bulan Mei ke Sing lagi tapi kali ini ama anak anak, dilanjut Juli, memenuhi janji ke mama tersayang untuk jalan ke Malaysia dan akhirnya anak anak ikut juga. 2018 ditutup dengan traveling ke Jepang bareng HN … ahhh begitu banyak yang seharusnya menjadi cerita di tahun lalu. Cerita indah tentang betapa baiknya Alloh kepada kami, Alhamdulillah

Entah kenapa kok gak ada satupun dari semua draft yang tayang sampai tahun 2018 berakhir. Diujung 2018, tiba tiba di IG saya nekat ikut 30 hari bercerita. Sempet deg degan … duh bisa gak ya saya konsisten, bisa gak ya saya terus mendapatkan inspirasi untuk terus posting sesuai jadwal. Sampai hari ke 3 saya sempet bingung mau nulis apa, tapi saya paksakan tetap menulis. Saya juga menetapkan jadwal untuk posting, yaitu setiap pagi sebelum pukul 9. Alhamdulillah ini sudah hari ke 11, belum ada yang ‘skip’ dan semoga tidak ada yang skip 🙂

Yang saya rasakan saat ini adalah saya lebih lancar menulis. Setiap kejadian, sekecil apapun bisa menjadi inspirasi bagi saya. Kesimpulan pendek yang saya buat sampai hari ini adalah dengan terus menulis, walaupun awalnya memaksakan diri ternyata membuat kita semakin mudah untuk menulis. Begitu kalimat pertama tertulis, ternyata kalimat selanjutnya mengalir dengan lancar. Benar adanya ‘nasehat’ tentang menulis yang pernah saya baca. Yang penting kamu rajin saja dulu menulis, nanti semakin lama kamu akan terbiasa dan berujung menjadi mahir menulis.

Setujulah saya dengan ‘motto’ nya Dori dari film NEMO itu. Kalo Dori memiliki motto just keep swimming … swimming … swimming, maka motto saya adalah just keep writing … writing … writing 🙂 Karena itulah, dirasa sudah ‘sedikit’ konsisten dengan posting di IG, saya memberanikan diri membuka blog ini lagi dan mulai membuat tulisan pertama saya di tahun 2019 ini. Selain motto saya ‘just keep writing’ , hal lain yang saya putuskan adalah sementara saya tidak akan meng kotakkan diri dengan memiliki 1 tema untuk blog saya ini. Karena ‘just keep writing’ saya akan menulis apapun yang ingin saya tulis. Semua topik, bukan saja traveling. Saya membuka diri lebar lebar sampai pada satu titik akhirnya nanti saya akan menemukan tema untuk blog saya 🙂

Jadiii …. kamu bisa baca apapun disini, gak melulu tentang traveling karena saya akan menulis apa yang ingin saya tulis dan apa yang sedang saya pikirkan atau apa yang menjadi inspirasi bagi saya dan saya ingin share disini. Selamat datang di dunia sibubu 🙂